DNAku Oncorisk
Tes genomik personal untuk membantu mengetahui risiko relatif seseorang terkena kanker berdasarkan faktor predisposisi genetik yang diwariskan. Tes ini memberikan informasi mengenai potensi risiko kanker sejak dini sehingga dapat membantu dalam perencanaan deteksi dini, pemantauan kesehatan, dan langkah pencegahan yang lebih personal.
Teknologi Pemeriksaan
Polygenic Risk Score (PRS)
PRS adalah metode untuk memperkirakan risiko seseorang terhadap suatu penyakit berdasarkan kombinasi banyak variasi genetik (SNP). PRS menunjukkan risiko relatif — apakah risiko seseorang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan rata-rata populasi, bukan kepastian terkena penyakit.
Teknologi Microarray
Chip microarray berbasis array yang mampu mengikat ribuan hingga jutaan fragmen DNA sekaligus. Teknologi ini digunakan dalam proyek 1000 Genome Project dan mencakup varian dari database ClinVar, NHGRI, PharmGKB, dan ExAC.
Analisis Data Eksklusif
Database knowledge disusun secara mandiri dengan fokus pada populasi Indonesia dan telah divalidasi internal menggunakan data genetik lebih dari 2.000 populasi Indonesia. Database diperbarui secara periodik seiring perkembangan ilmu pengetahuan.
Setiap pemeriksaan dilengkapi dengan konseling gratis bersama genetic counselor.
Cakupan Jenis Kanker
Laporan mencakup risiko genetik untuk lebih dari 30 jenis kanker, disesuaikan berdasarkan jenis kelamin.
Perempuan 33 jenis
- Kanker Serviks
- Kanker Ovarium
- Kanker Rahim (Uterus)
- Kanker Payudara
- Kanker Endometrium
- Kanker Kantong Empedu
- Glioma
- Kanker Laring
- Neuroblastoma
- Hepatocellular Carcinoma
- Hodgkin Lymphoma
- Kanker Nasofaring
- Kanker Hati
- Kanker Kolorektal
- Kanker Paru-Paru
- Kanker Limfoma Non-Hodgkin
- Kanker Kulit
- Kanker Kandung Kemih
- Kanker Lambung
- Kanker Tiroid
- Kanker Pankreas
- Kanker Rongga Mulut
- Acute Lymphoblastic Leukemia
- Chronic Lymphocytic Leukemia
- Chronic Myeloid Leukemia
- Basal Cell Carcinoma
- Kanker Esofagus
- Leukemia
- Multiple Myeloma
- Kanker Ginjal
- Melanoma
- Meningioma
- Kanker Faring
Laki-laki 31 jenis
- Kanker Prostat
- Kanker Testis
- Kanker Payudara Pria
- Kanker Kantong Empedu
- Glioma
- Kanker Laring
- Neuroblastoma
- Hepatocellular Carcinoma
- Hodgkin Lymphoma
- Kanker Nasofaring
- Kanker Hati
- Kanker Kolorektal
- Kanker Paru-Paru
- Kanker Limfoma Non-Hodgkin
- Kanker Kulit
- Kanker Kandung Kemih
- Kanker Lambung
- Kanker Tiroid
- Kanker Pankreas
- Kanker Rongga Mulut
- Acute Lymphoblastic Leukemia
- Chronic Lymphocytic Leukemia
- Chronic Myeloid Leukemia
- Basal Cell Carcinoma
- Kanker Esofagus
- Leukemia
- Multiple Myeloma
- Kanker Ginjal
- Melanoma
- Meningioma
- Kanker Faring
Untuk Siapa DNAku Oncorisk?
- Individu dengan riwayat keluarga kanker (orang tua, saudara kandung, atau kerabat dekat yang pernah mengalami kanker)
- Orang yang ingin melakukan deteksi risiko kanker sejak dini meskipun belum memiliki gejala
- Individu usia produktif yang ingin merencanakan gaya hidup dan pemeriksaan kesehatan berdasarkan profil genetik mereka
- Orang dengan gaya hidup atau faktor risiko tertentu, seperti merokok, obesitas, paparan polusi, atau stres tinggi
- Pasien yang ingin melengkapi medical check-up dengan informasi risiko genetik yang lebih mendalam
- Klinik, rumah sakit, atau dokter yang menyediakan layanan kesehatan preventif dan skrining risiko penyakit
Prosedur Pemeriksaan
Buccal swab atau 3 mL darah
DNA diekstraksi dari sampel
Analisis SNP dengan chip microarray
Laporan risiko personal dikirimkan
Manfaat
Awareness
- Mendapatkan informasi profil genetik yang lebih personal
- Mengetahui risiko genetik terhadap lebih dari 30 jenis kanker sejak dini
- Dasar perubahan gaya hidup yang lebih terarah
Preventif
- Membantu menentukan strategi deteksi dini atau skrining yang sesuai, dengan arahan dokter
DNAku Oncorisk adalah tes skrining prediktif berbasis genetik, bukan tes diagnosis. Hasil tes memberikan gambaran faktor risiko genetik berdasarkan bukti penelitian ilmiah terkini dan berfungsi sebagai informasi pendukung kesehatan. Setiap interpretasi hasil dan tindak lanjut medis harus dilakukan bersama tenaga kesehatan yang berkualifikasi.
